Senin, 16 Juli 2012

PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN, ROI (RETURN ON INVESMENT), EPS ( EARNING PER SHARE), DAN SAHAM




2.1 Manajemen Keuangan
      2.1.1   Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Fungsi-fungsi keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund). Manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva tersebut.
Peran seorang manajer keuangan sangat penting dalam hal pengambilan keputusan mengenai investasi dan pendanaan. Adapun pengertian manajemen keuangan adalah sebagai berikut :
Menurut Agus Sartono (2001:6) dalam bukunya “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi” :
“Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara evektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien”.

Bambang Riyanto (2001:4) dalam “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan” menjelaskan bahwa :
“Keseluruhan aktivitas yang bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut disebut manajemen keuangan”.
          Sedangkan menurut Suad Husnan (2004:4) dalam “Dasar-dasar Manajemen Keuangan”, menjelaskan :
“Manajemen Keuangan menyangkut kegiatan perencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan”.        
2.1.2   Fungsi Manajemen Keuangan
Prinsip manajemen perusahaan menuntut agar baik dalam memperoleh dana harus didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan evektifitas. Dengan demikian maka manajemen keuangan tidak lain adalah manajemen untuk fungsi-fungsi pembelanjaan.
          Dalam melaksanakan fungsi pemenuhan kebutuhan dana atau fungsi pendanaan (financing), manajer keuangan pun harus selalu mencari alternatif-alternatif sumber dana untuk kemudian dianalisa, dan dari hasil  analisa tersebut harus diambil keputusan alternatif sumber dana atau kombinasi sumber mana yang akan dipilih. Dengan demikian manajer keuangan pun harus mengambil keputusan pendanaan (financing decision).
          Dengan demikian maka fungsi pembelanjaan atau manajemen keuangan menurut Bambang Riyanto (2001:6) dalam bukunya “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan” pada dasarnya terdiri atas :
1.      Fungsi menggunakan atau mengalokasikan dana (use/allocation of funds) yang dalam pelaksanaannya manajer keuangan harus mengambil keputusn pemilihan alternatif investasi atau keputusan investasi, dan
2.      Fungsi memperoleh dana (obtaining of funds) atau fungsi pendanaan yang dalam pelaksanaannya manajer keuangan harus mengambil keputusan pemilihan alternatif pendanaan atau keputusan pendanaan (financing decision).
Berhubung dengan itu, maka pengertian pembelanjaan perusahaan (dalam artian yang luas) dapat didefinisikan sebagai keseluruhan aktivitas perusahaan yang bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin.
      2.1.3   Tujuan Manajemen Keuangan
          Manajemen keuangan yang efisien membutuhkan tujuan dan sasaran yang digunakan sebagai standar dalam memberikan penilaiaan keefisienan keputusan keuangan. Untuk bisa mengambil keputusan-keputusan yang benar, manajer keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai. Keputusan yang benar adalah keputusan yang akan membantu mencapai tujuan tersebut.
          Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2004:6) dalam “Dasar-dasar Manajemen Keuangan” :
“Secara normatif tujuan keputusan keuangan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual”.
          Sedangkan menurut Indiyo Gitosodarmo (2000:7) dalam “Manajemen Keuangan”, menjelaskan bahwa tujuan dari bagian keuangan dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu :
1.    Pendekatan risiko hasil
Dalam pendekatan ini menekankan agar manajer keuangan harus menciptakan laba yang maksimum tetapi dengan tingkat risiko yang minimum. Untuk memperoleh keseimbangan tersebut, maka perusahaan harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap aliran dana yang memberikan kemungkinan perusahaan lingkungan usaha.
2.    Pendekatan likuiditas profitabilitas
Dalam pendekatan ini, manajer keuangan harus berusaha menjaga likuiditas dan profitabilitas bersama-sama secara selaras dan seimbang. Likuiditas berarti harus dijaga agar selalu tersedia uang kas guna memenuhi kewajiban-kewajiban finansiilnya baik ekstern maupun intern. Tujuan profitabilitas berarti harus diusahakan tercapainya laba jangka panjang.
        
2.2 Return On Invesment (ROI)
2.2.1 Pengertian Return On Invesment (ROI)
         Return On Invesment merupakan salah satu dari rasio profitabilitas dimana rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas ini sangat diperhatikan oleh calon maupun pemegang saham karena akan berkaitan dengan harga saham serta dividen yang akan diterima. Oleh sebab itu, Return On Invesment dapat diartikan sebagai berikut :
Bambang Riyanto (2001:336) dalam bukunya ”Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan”, menjelaskan :
Return on Investment atau tingkat pengembalian investasi menunjukkan tingkat kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto.” 

Sedangkan menurut M. Fakhrudin dan M. Sopian Hadianto (2001:65) dalam “Perangkat dan Model Analisis Investasi di Pasar Modal, menjelaskan bahwa :
Return on investment menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan.”

Sofyan Syafri Harahap (2004:305) mengemukakan dalam “ Analisis Kritis atas Laporan Keuangan”  bahwa :
“Return on invesment adalah suatu rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari modal pemilik”.
Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva. Semakin besar rasio ini maka semakin baik. Analisa Return on Investment dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif). Analisa Return on Investment merupakan teknik analisa yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan.
Unsur dari Return on Investment antara lain EAT (Earning After Tax) dan total investasi. Dalam bahasa sehari-hari EAT dapat dibahasakan sebagai keuntungan bersih perusahaan. Dalam prakteknya Return on Investment dipergunakan sebagai nilai yang menunjukkan tingkat pengembalian investasi. Semakin besar nilai Return on Investment menunjukkan semakin cepat pengembalian sebuah investasi.
2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi  ROI
Menurut Munawir dalam “Analisa Laporan Keuangan” (2001:89), besarnya Return on Investment dipengaruhi oleh dua faktor :
1.            Turnover dari operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi).
2.            Profit Margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam prosentase dan jumlah penjualan bersih. Profit margin ini mengukur tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan penjualannya.
Besarnya Return on Investment akan berubah kalau ada perubahan profit margin atau assets turnover, baik masing-masing atau kedua-duanya. Dengan demikian, maka pimpinan perusahaan dapat menggunakan salah satu atau kedua-duanya dalam rangka memperbesar Return on Investment. Usaha mempertinggi Return on Investment dengan memperbesar profit margin adalah bersangkutan dengan usaha untuk mempertinggi efisiensi disektor produksi, penjualan dan administrasi. Usaha mempertinggi Return on Investment dengan memperbesar assets turnover adalah kebijaksanaan investasi dana dalam berbagai aktiva, baik aktiva lancar maupun aktiva tetap.
Sedangkan menurut Agus Sartono dalam bukunya “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi, (2001 : 124)” menjelaskan bahwa :
“Dengan menggunakan hubungan antara perputaran aktiva dengan net profit magin dapat dicari earning power atau return on asset /return on invesment ratio”. Return on Investment merupakan tolak ukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang digunakan. Rasio ini menunjukan pula tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat perputaran aktiva”.

Dengan demikian, maka faktor-faktor yang mempengaruhi Return on Investment adalah:
1.            Net Profit Margin
Net profit margin ini mengukur tingkat keuntungan bersih yang dapat dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan penjualan.
2.            Total Assets Turnover
Perputaran aktiva menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba.
2.2.3 Kegunaan dan Kelemahan Analisa Return On Invesment (ROI)
Menurut Munawir dalam “Analisa Laporan Keuangan” (2001:91), Return on Investment memiliki kegunaan dan kelemahan.
·               Kegunaan dari analisa Return on Investment adalah sebagai berikut :
a)      Sebagai salah satu kegunaan yang prinsipiil ialah sifatnya yang menyeluruh. Apabila perusahaan sudah menjalankan praktek akuntansi yang baik maka manajemen dengan menggunakan tekhnik analisa Return on Investment dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi produksi dan efisiensi bagian penjualan.
b)      Apabila perusahaan dapat mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh ratio industri, maka dengan analisa Return on Investment ini dapat dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada di bawah, sama, atau di atas rata-ratanya. Dengan demikian, perusahaan tersebut dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaannya dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
c)      Analisa Return on Investment pun dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakanyang dilakukan oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan.
d)     Analisa Return on Investment pun dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menggunakan “product cost system” yang baik, modal dan biaya dapat dialokasikan kepada berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan sehingga dengan demikian akan dapat dihitung profitabilitas dari masing-masing produk. Dengan demikian, maka manajemen akan dapat mengetahui produk mana yang mempunyai “profit potential”.
e)      Analisis Return on Invesment selain dapat berguna untuk keperluan pengendalian, juga berguna untuk keperluan perencanaan. Analisis Return on Invesment dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bila akan mengadakan ekspansi usaha.
·               Kelemahan analisa Return on Investment, yaitu :
a)   Salah satu kelemahan yang prinsipil ialah kesukarannya dalam membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis, mengingat bahwa kadang-kadang praktek akuntansi yang digunakan oleh masing-masing perusahaan tersebut adalah berbeda-beda. Perbedaan metode dalam penilaian berbagai aktiva antara perusahaan yang satu dengan yang lain, akan dapat memberi gambaran yang salah karena ada berbagai metode penilaian inventori (Fifo, Lifo, Average, The lower cost or market valuation) yang digunakan akan berpengaruh terhadap besarnya nilai inventori, dan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap jumlah aktiva. Demikian pula dengan adanya berbagai metode depresiasi yang akan berpengaruh terhadap jumlah aktivanya.
b)   Kelemahan lain dari tehnik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi nilai dari uang (daya beli). Suatu mesin atau perlengkapan tertentu yang dibeli dalam keadaan inflasi nilainya berbeda dengan mesin yang dibeli pada saat tidak terjadi inflasi. Hal ini sangat berpengaruh dalam menghitung investment turnover dan profit margin.
c)   Dengan menggunakan analisa rate of return atau return on invesment saja tidak akan dapat digunakan untuk mengadakan perbandingan antara dua perusahaan atau lebih karena akan mendapatkan kesimpulan yang tidak memuaskan.

2.3 Earning Per Share (EPS)
2.3.1 Pengertian Earning Per Share (EPS)
Laba per lembar saham (Earning Per Share) merupakan salah satu indikator tingkat nilai perusahaan dan juga salah satu cara guna mengukur keberhasilan dalam mencapai keuntungan bagi para pemilik saham dalam perusahaan.
Zaki Baridwan dalam (2004:448)  “Intermediate Accounting” menjelaskan bahwa :
“Laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar.”
Menurut  Frank J. Fabozzi (2000:361) dalam “Manajemen Investasi” :
“EPS merupakan salah satu angka yang di hitung dengan membagi laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa (EAT dikurangi saham preferen) dengan rata tertimbang jumlah lembar saham yang beredar selama periode perhitungan dilakukan.”

Menurut James O Gill (2002:361) dalam “Dasar-dasar Analisis Keuangan” :
Earning Per Share merupakan salah satu alat ukur untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi para pemilik saham dalam perusahaan”.

 
Dari beberapa teori yang dikemukakan tersebut maka kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa Earning Per Share adalah salah satu tingkat penilaian perusahaan untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam pencapaian keuntungan bagi para pemilik saham perusahaan dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara laba bersih dengan jumlah lembar saham beredar.

2.4 Saham
2.4.1 Pengertian Saham
Saham secara sederhana dapat di definisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan perusahaan tersebut.
Menurut Asril Sitompul (2000:164) dalam “Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya”:
“Saham adalah bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan. Bukti kepemilikan ini terdapat dalam dua bentuk yaitu saham yang dikeluarkan atas nama pemiliknya disebut saham atas nama dan saham yang tidak mencantumkan nama pemiliknya disebut saham atas unjuk.”

Tjiptono Darmaji dan Hendy M. Fakhrudin (2001:5) dalam “Pasar Modal di Indonesia” menjelaskan bahwa:
“Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.”
Menurut Bambang Riyanto (2001:240) dalam “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan” :
“Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu peseroan terbatas (PT).”
Suad Husnan (2001:285) dalam bukunya “Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, mengemukakan bahwa :
“Saham menunjukan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT).”
Sedangkan menurut Dewi Astuti (2004:49) dalam “Manajemen Keuangan Modern”, menjelaskan bahwa :
“Saham atau stock adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas. Saham merupakan sekuritas yang paling sering diperdagangkan dan dapat diterbitkan dengan cara atas nama atau atas unjuk.”        


Sedangkan menurut M. Fakhruddin dan M. Sopian Hadianto (2001:6) dalam “Perangkat  dan Model Analisis Investasi di Pasar Modal” :
“ Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut”.

Jadi dapat dijelaskan bahwa saham adalah surat bukti keikutsertaan dalam permodalan perusahaan dan mempunyai hak atas sebagian kekayaan perusahaan, hal ini berarti kalau seorang investor membeli saham, maka ia pun menjadi pemilik perusahaan tersebut, dimana proporsi kepemilikanya sesuai dengan jumlah kepemilikan saham yang dipunya oleh pemegang saham tersebut. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut.
2.4.2 Jenis – jenis Saham
Menurut Asril Sitompul (2000:164)  dalam “Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya)” jenis saham terdiri atas :
1.            Saham biasa (Common Stock)
Saham biasa merupakan saham yang menempatkan pemiliknya tidak memiliki prioritas utama terhadap pembagian deviden, dan hak atas kekeyaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi. Saham biasa merupakan saham yang paling banyak dkenal dan diperdagangkan di pasar.
2.            Saham preferen (Preferrend Stock)
Saham preferen merupakan saham yang menempatkan pemiliknya memiliki prioritas utama terhadap pembagian deviden, dan hak atas kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
2.4.3 Pengertian Harga Saham
Saham biasanya diperdagangkan dilantai bursa dengan harga pasar yang akan berbeda-beda pada tiap-tiap waktunya, hal ini akan berkaitan dengan nilai dari suatu saham tersebut. Secara umum saham dapat diartikan sebagai surat berharga yang dapat dibeli atau dijual oleh perorangan atau lembaga di pasar tempat surat tersebut diperjualbelikan dan merupakan suatu tanda bukti kepemilikan suatu perusahaan.
Pengertian harga saham menurut Agus Sartono (2001:34) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi” adalah :
“Harga saham adalah nilai dimana orang bersedia membayar untuk setiap lembar sahamnya”.
Sedangkan menurut Jogiyanto (2003:88) dalam “Teori Portofolio dan Analisis Investasi” :
“Harga saham merupakan harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Nilai pasar ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa”.
Menurut Sentanoe Kertonegoro (1995:102) dalamAnalisis dan Manajemen Investasi” terdapat tiga jenis nilai saham yaitu:
1.      Nilai Nominal
Nilai nominal adalah nilai yang tercantum dalam sertifikat saham dan pencantumannya berdasarkan keputusan dan dari hasil pemikiran perusahaan yang mempunyai saham tersebut. Jadi, nilai nominal sudah ditentukan pada saham itu diterbitkan.
2.      Nilai Buku
Nilai buku menunjukan nilai bersih kekayaan perusahaan, artinya nilai buku merupakan hasil perhitungan dari total aktiva perusahaan yang dikurangkan dengan hutang serta saham preferren kemudian dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Nilai buku seringkali lebih tinggi daripada nilai nominalnya.
3.      Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik adalah nilai yang mengandung unsur kekayaan perusahaan untuk menghimpun laba dimasa yang akan datang.
Kalau kemudian saham diperjualbelikan di pasar yaitu di bursa efek, maka diperoleh harga pasar. Harga ini sering disebut kurs saham. Harga pasar saham secara umum adalah harga saham yang dibentuk oleh kekuatan hukum permintaan dan penawaran yaitu dimana saham banyak diminati oleh investor maka harganya akan cenderung naik, namun sebaliknya apabila saham kurang diminati maka harganya akan cenderung turun.
Namun bagaimana saham tersebut diminati atau tidaknya maka akan tetap kapada faktor yang mempengaruhi harga saham secara teoritis. Weston dan Copeland (1995:183) mengatakan bahwa :
“Harga saham dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, risiko pasar, deviden, dan tingkat pertumbuhan pendapatan perusahaan yang diharapkan.”
Terdapat juga pendapat lain menurut Weston dan Bringham dalam “Dasar-dasar Manajemen Keuangan” (1998:27) yang mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi harga saham adalah :
“ Keadaan di bursa saham secara keseluruhan itu sendiri, maksudnya naik turunnya harga saham sejalan dengan cerah lesunya perdagangan dilantai pasar bursa saham.”
Apabila dihubungkan dengan nilai intrinsik saham maka akan menghasilkan dua kemungkinan kondisi harga saham. Undervalued yaitu kondisi dimana harga pasar saham lebih rendah dibandingkan dengan nilai intrinsiknya, maka para investor biasanya cenderung membeli saham perusahaan tersebut, dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang bahwa harga saham tersebut akan naik. Overvalued yaitu kondisi dimana harga pasar saham lebih tinggi dibandingkan nilai intrinsiknya, maka para investor biasanya cenderung akan menjual sahamnya, dengan harapan dapat memperkecil tingkat resiko kerugian yang akan membebaninya pada masa yang akan datang.
Menyangkut perubahan (fluktuasi) harga saham, sebaiknya dipahami dulu kaitannya dengan analisis saham. Proses perubahan (fluktuasi) harga saham secara teoritis berawal dari aktivitas evaluasi para investor. Proses evaluasi dilaksanakan dengan jalan mengestimasi harapan perolehan pendapatan dan resikonya guna menentukan nilai intrinsic saham menggunakan data yang paling akhir. Hasil yang diperoleh diperbandingkan dengan harga pasar yang terjadi untuk mengetahui wajar atau tidaknya harga saham tersebut. Dari penilaian kewajaran tersebut diambil keputusan membeli atau menjual saham.

2.4.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Ali Arifin (2004:116) dalam “Membaca Saham”, faktor-faktor yang memicu berfluktuasinya harga saham adalah :
a.   Kondisi Fundamental Emiten
Faktor fundamental adalah faktor yang berkaitan langsung dengan kinerja emiten itu sendiri. Semakin baik kinerja emiten maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. Begitu juga sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin besar kemungkinan merosotnya harga saham yang diterbitkan dan diperdagangkan. Selain itu, keadaan emiten akan menjadi tolak ukur seberapa resiko yang dapat ditanggung oleh investor.
b.   Hukum Permintaan dan Penawaran
Faktor hukum permintaan dan penawaran berada di urutan kedua setelah faktor fundamental karena begitu investor tahu kondisi fundamental perusahaan, maka tentunya mereka akan melakukan transaksi baik jual maupun beli. Transaksi inilah yang akan mempengaruhi fluktuasinya harga saham.
c.   Tingkat Suku Bunga
Yang dimaksud suku bunga di sini adalah suku bunga yang diberlakukan Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Pemerintah melalui BI akan menaikkan tingkat suku bunga guna mengontrol perekonomian nasional atau yang sering disebut Kebijakan Moneter. Selain kebijakan moneter, pemerintah juga bisa mengeluarkan kebijakan fiskal seperti pajak dan sebagainya. Bunga yang tinggi akan berdampak pada alokasi dana investasi para investor. Investasi produk bank seperti deposito atau tabungan jelas lebih kecil risikonya dibanding investasi dalam bentuk saham. Karenanya, investor akan menjual sahamnya dan dananya kemudian ditempatkan di bank. Penjualan saham secara serentak ini akan berdampak pada penurunan harga saham secara signifikan.
d.   Valuta Asing
Dalam kehidupan perekonomian global dewasa ini hampir tak ada satupun negara di dunia yang bisa menghindari perekonomiannya dari pengaruh US dollar. Ketika suku bunga dollar naik, maka para investor terutama investor asing akan menjual sahamnya untuk ditempatkan di bank dalam bentuk dollar. Adanya penjualan saham tersebut otomatis harga saham menjadi turun.
e.   Dana Asing di Bursa
      dana asing di bursa perlu diketahui karena memiliki dampak yang sangat besar. Jika sebuah bursa dikuasai oleh investor asing maka ada kecenderunagn transaksi saham sedikit banyak tergantung pada investor asing tersebut.
f.    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
IHSG sebenarnya lebih mencerminkan kondisi keseluruhan transaksi bursa saham yang terjadi jika dibandingkan menjadi ukuran kenaikan maupun penurunan harga saham. Karena bursa saham merupakan salah satu indikator perekonomian sebuah negara maka diperlukan sebuah standar perhitungan tentang transaksi yang terjadi dalam bursa sepanjang periode tertentu. Perhitungan ini yang akan dipergunakan sebagai tolak ukur kondisi perekonomian dan investasi sebuah negara. Perhitungan tersebut adalah Indeks Harga Saham Gabungan.
g.   News dan Rumors
Yang dimaksud news dan rumors adalah semua berita yang beredar di tengah masyarakat yang menyangkut berbagai hal baik itu masalah ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya. Dengan adanya berita tersebut para investor bisa memprediksi seberapa kondusif keadaan negeri ini sehingga kegiatan investasi bisa dilaksanakan. Ini akan berdampak pada pergerakan harga saham di bursa. 
2.4.5 Penilaian Harga Saham
Dalam penentuan harga saham, pada prakteknya mengacu pada beberapa pendekatan teori penilaian dimana dalam perkembangannya paralel dengan persepsi investor yang berminat untuk menanamkan modalnya di suatu perusahaan yang terdaftar di lantai bursa. Investor akan memperhatikan apakah perusahaan emiten dalam keadaan kontinyu, bangkrut atau dalam keadaan mengalamin resiko likuidasi. Investor yang rasional akan selalu mempertimbangkan resiko usaha.
Menurut Suad Husnan (2001:325) dalam “Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, teknik analisis yang digunakan dalam penilaian harga saham ada dua, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
1.      Analisis Fundamental (Fundamental Analysis)
Menurut Suad Husnan (2001:315):
“Analisis fundamental adalah teknik yang mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan cara (i) mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang, dan (ii) menerapkan hubungan variable-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.”

Analisis fundamental mempelajari aspek-aspek fundamental seperti penjualan, pertumbuhan penjualan, kebijakan deviden, kekayaan, biaya, dan evaluasi manajemen perusahaan yang diperkirakan akan mempengaruhi harga saham.
Sedangkan menurut Sentanoe Kertonegoro (1995:113):
“ Analisis fundamental merupkan suatu studi yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan keuangan suatu bisnis dengan maksud untuk lebih memhami sifat dasar dan karakteristik operasional perusahaan public yang menerbitkan saham biasa tersebut.”

Analisis fundamental ini bertitik tolak dari anggapan dasar bahwa setiap investor adalah makhluk yang rasional karena mereka menganggap adanya hubungan antara kinerja perusahaan yang bersangkutan dengan harga saham, dalam arti jika kinerja perusahaan baik maka harga saham akan cenderung naik. Analisa terhadap rasio keuangan merupkan inti dari analisis fundamental atas prestasi keuangan suatu perusahaan.
2.      Analisis Teknikal (Technical Analysis)
Menurut Suad Husnan (2001:349)
“ Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham tersebut (kondisi pasar) di waktu yang lalu. Pemikiran yang mendasari analisis tersebut adalah ( i ) harga saham mencerminkan informasi yang relevan, (ii) informasi tersebut ditunjukan oleh perubahan harga di waktu yang lalu, dan (iii) perubahan harga saham akan mempunyai pola tertentu dan pola tersebut akan berulang.”

Sedangkan menurut Sentanoe Kertonegoro (1995:133) :
“ Analisis teknikal merupakan suatu studi yang dilakukan untuk mempelajari berbagai kekuatan yang berpengaruh di pasar saham dan implikasi yang ditimbulkannya pada harga saham.”
Dari pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa semua hal seperti kondisi ekonomi, politik, fundamental, dan lain-lain sudah tercermin pada harga pasar saham. Analisis teknikal merupakan pendedkatan untuk mencari pola pergerakan harga saham yang bisa dipakai untuk meramalkan pergerakan harga saham di kemudian hari. Analisis teknikal pada dasarnya merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli atau permintaan dan menjual atau penawaran saham.

2.5 Pengaruh Return On Invesment Terhadap Perubahan Harga Saham
         Perusahaan mengeluarkan beberapa jenis surat berharga jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjang. Surat-surat berharga atau sekuritas tersebut meliputi saham biasa, saham preferen, obligasi dan bentuk lain penyertaan modal yang diperjualbelikan di pasar modal.
         Pada umumnya, tujuan perusahaan adalah memaksimumkan pemegang saham atau memaksimumkan nilai saham perusahaan. Return on invesment menunjukan seberapa jauh aset perusahaan yang di investasikan dalam keseluruhan aktiva dapat digunakan secara efektif untuk menghasilkan laba. Apabila Return on invesment perusahaan tinggi, berarti perusahaan tersebut profitable sehingga memungkinkan harga saham akan tinggi.
         Menurut Ali Arifin (2004:116) dalam bukunya “Membaca Saham”, faktor penggerak harga saham adalah faktor fundamental dan faktor hukum permintaan dan penawaran. Faktor fundamental adalah faktor yang berkaitan langsung dengan kinerja perusahaan (emiten) itu sendiri. Semakin baik kinerja emiten maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. Begitu juga sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin besar kemungkinan merosotnya harga saham yang diterbitkan dan diperdagangkan.
         Dengan melakukan pendekatan analisis rasio profitabilitas, dapat diketahui kemampuan perusahaan mencetak laba yang diukur dengan tingkat pengembalian aktiva (return on invesment) dan memastikan apakah kondisi perusahaan dalam posisi yang baik atau buruk dalam mengelola keseluruhan aktivanya.
         Penelitian sebelumnya mengenai pengaruh return on invesment terhadap perubahan harga saham dilakukan oleh Wina Restianti (2007) mahasiswi Universitas Islam Bandung dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan Yang Diukur Melalui  Ratio Analisis (ROI dan NPM) Terhadap Perubahan Harga Saham”. Dimana hasil penelitiannya adalah pengaruh return on invesment terhadap perubahan harga saham mempunyai pengaruh yang signifikan.

2.6  Pengaruh Perubahan Earning Per Share Terhadap Perubahan Harga Saham
         Earning per share (EPS) menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Para calon pemegang saham atau investor tertarik pada Earning Per Share yang besar, karena merupakan salah satu tolak ukur  keberhasilan suatu perusahaan. Semakin tinggi Earning Per Share maka semakin tinggi harga saham. Pada umumnya, investor akan mengharapkan manfaat dari investasinya dalam bentuk laba per lembar saham, sebab Earning Per Share menggambarkan jumlah keuntungan yang diperoleh.
         Agus Sartono (2001:9) dalam buku yang berjudul “Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi”, menjelaskan bahwa kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga saham yang dimilikinya meningkat. Sementara itu, harga saham itu terbentuk di pasar modal dan ditentukan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham atau earning per share.
Apabila Earning Per Share (EPS) suatu perusahaan tidak memenuhi harapan pemegang sahamnya, maka keadaan ini akan berdampak pada penurunan harga saham. Tetapi, selama perusahaan tersebut dapat memelihara kepercayaan investor dengan meningkatkan labanya atau mempertahankannya maka keadaan tersebut cenderung akan membaik.
Adanya pengaruh antara Earning Per Share terhadap harga saham telah dibuktikan dari penelitian Noer Sasongko dan Nila Wulandari (2006) yang meneliti tentang ”Pengaruh EVA dan Rasio-asio Profitabilitas (diukur dengan ROA, ROE, ROS, EPS dan BEP) Terhadap Harga Saham”. Dimana setelah dilakukan pengujian, hasil uji t parsial menunjukan bahwa earning per share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t yang diterima pada taraf signifikansi 5% (p≤0.05) yang artinya earning per share (EPS) dapat digunakan untuk menentukan nilai perusahaan.

3 komentar:

  1. Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
    salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)

    BalasHapus
  2. buruk banget blog mu ne,,, percuma aja posting gk bisa di baca

    BalasHapus
  3. tampilan blog nya kurang baik; warna tulisan dan backgroundnya sulit dibaca mata. isi tulisanny mnarik. trima kasih

    BalasHapus